Bismillaah,
Terangkai dari sebuah buku yang insya Allaah untuk beberapa postingan kedepan akan menampilkan sisi indah, dan lezatnya ilmu yang dirasa jarang orang-orang kebanyakan mengetahui adanya.
Buku karangan Ahmad Rifa'i Rif'an yang berjudul "Tuhan, Maaf, Kami sedang sibuk" membuat otak kiri tidak berjalan; tak bisa dikalkulasikan berapa ilmu yang didapat hanya dari 1 bab buku ini.

Syukur terucap saat adanya niat membeli jam tangan yang standnya terletak satu petak dengan gramedia. Kebetulan sekali jam yang saya cari tidak ada, jadilah saya membeli buku ini. Hehe, Alhamdulillaah
Dengan pemahaman yang sempit ini akan saya coba tumpah ruahkan pada beberapa postingan di blog ini, tentunya pemahaman sempit milik sendiri. Tanpa terlepas dari itu, ini adalah jejak pendapat pribadi tentang wah nya buku ini.

1. Tuhan kok disuruh-suruh?!
2. Cara mengubah takdir!

***

Tuhan kok disuruh-suruh?!

Jika kita cermati dengan kaidah bahasa, tiap apa yang kita pinta kepada Allaah adalah sebuah kalimat perintah. Misalnya,
  • Ya Allaah, berilah hamba rezeki yang halal, thayyib, dan yang terpenting, rezeki yang banyak
  • Ya Allaah, bantulah hamba untuk segera melunasi utang-utang hamba yang sudah menumpuk ini untuk segera terlunasi.
  • Ya Allaah, luluskanlah hamba pada ujian besok
  • Ya Allaah, tunjukanlah kami jalan yang lurus
Jangan bilang Anda tidak pernah berdo'a semacam itu, kini do'a menjadi hobi yang paling digemari ummat manusia tatkala sedang dalam kondisi sempit. Dari tukang becak sampai supir taxi. Pemimpin rumah tangga sampai pemimpin negara. Semua berhobi do'a.

Perhatikan kata yang bercetak miring dalam beberapa contoh do'a diatas; lalu coba bubuhkan tanda seru (!) setelahnya. Kita seolah nyuruh-nyuruh Allaah untuk memenuhi keinginan kita. Tuhan kok disuruh-suruh?!. Apa Allaah akan marah? Allaah tidak akan marah, justru disinilah 'asma-Nya Ar-Rahman dan Ar-Rahim terbukti.

Kalimat do'a yang lebih pantas kita sebut sebagai kalimat perintah tersebut ternyata tidak dilarang oleh-Nya.
Ada sebuah kisah dari zaman Nabi Musa 'alayhissalam tentang seorang penggembala yang berdo'a kepada Allaah,

"Ya Allaah. jadikanlah aku pembantu-Mu. Akan kutimbakan air untuk mandi-Mu setiap pagi. Akan kutalikan terompah kulit-Mu. Jika Engkau letih, akan kupijati kaki-Mu. Akan kusediakan makan siang jika Engkau lapar..."

Mendengar do'a penggembala itu lantas Nabi Musa 'alayhissalam memarahinya

"Hey, enak saja kau ngomong! Memangnya Tuhan butuh mandi? kau kira Tuhan pake terompah? Butuh makan? Bisa letih?"

Tapi Allaah merespons sikap Nabi Musa,

"Hai Musa! Apa hakmu menghalangi hamba-Ku memesrai-Ku dengan bahasanya dan tingkat pengetahuannya...!"

Tingkat pengetahuan; Allaah mengizinkan kita berdo'a dengan kemampuan kita berbahasa. Allaah Maha tau maksud do'a kita; do'a yang tidak disebutpun didengarkan-Nya.

Ada juga kisah seorang anak SD yang bersyukur dengan keilmuan berbahasanya. Ahmad Rifa'i Rif'an mengatakan ini adalah kisah dari Ippho Santosa yang menurutnya memang benar adanya seorang anak ini bersyukur,

"Tuhan, tadi pagi waktu berangkat ke sekolah aku diberi ibu bekal sepotong kue dan sebotol air. Kata ibu, sekarang sedang paceklik, jadi hanya itu yang bisa kubawa agar di sekolah tidak perlu jajan di kantin. Terimakasih kuenya, Tuhan. Di jalan aku melihat pengemis yang kelaparan. Lalu aku berikan kue itu kepadanya. Tahu-tahu saja rasa laparku hilang ketika melihat pengemis itu tersenyum."

"Tuhan, lihatlah ini sepatu terakhirku. Mungkin aku harus berjalan tanpa sepatu minggu depan. Engkau 'kan tahu sepatu ini sudah rusak berat. Tapi tidak apa-apa, paling tidak aku masih bisa pergi ke sekolah. Tetanggaku bilang orang-orang sedang gagal panen, sehingga teman-temanku banyak yang terpaksa berhenti sekolah. Tolong bantu mereka Tuhan supaya bisa bisa sekolah lagi."

"O... ia Tuhan, semalam ibuku memukulku. Mungkin karena aku nakal. Memang agak sakit. Tapi pasti sakitnya segera hilang, karena kuyakin Engkau akan menyembuhkannya. Yang penting aku masih punya seorang ibu. Jadi kumohon, Tuhan, jangan Engkau marahi ibuku yah? Mungkin ibu sedang lelah saja dan panik memikirkan kebutuhan sehari-hari dan biaya sekolahku."

"Terakhir Tuhan, sepertinya aku sedang jatuh cinta. Di kelasku ada seorang wanita yang cantik, baik, dan pintar. Menurut Engkau apakah dia akan menyukaiku? Tapi apapun yang terjadi, yang aku tahu engkau tetap menyukaiku kan?. Terimakasih Tuhan.

Sungguh, saya tidak tau apa harus melekukan bibir dan tersenyum atau meneteskan air mata membaca cerita ini. Begitu polosnya anak ini.

Ah, Saya jadi rindu masa kanak-kanak, ketika tiada beban dan tanggung jawab berlebih serta pikiran yang membuat stress, kalut dsb.

Dalam shalat pun banyak do'a-do'a yang dalam kaidah bahasa hakikatnya kita 'menyuruh-nyuruh' Tuhan. Misal dalam do'a duduk antara dua sujud.

"Rabbighfirli warhamni wajburni warfa'ni warzuqni wahdini wa'afini wa'fu 'anni."
Ya Tuhanku ampunilah aku, sayangilah aku, tutupilah kekurangaku, angkatlah darjatku, berilah aku rezeki, berilah aku petunjuk, sehatkanlah aku dan maafkanlah aku.

Ampunilah!, sayangilah!, tutupilah!, angkatlah!, berilah!, sehatkanlah!, maafkanlah!, Ya Rabbul 'izzati.


(Al-Ghuraba'/ngahontal.blogspot.com)

Leave a Reply