Tekad untuk meminggirkan segala rasa khawatir dan ragu, rasa tak pantas dan pesimis. Menutup mata dari sikap-sikap yang diluar nalar kemauanku. Membuka mata hati untuk membaca sikap-sikap secara maknawiah. Menghargai kemauan diri dengan diam. Itu yang kubutuhkan sekarang.
Rasa gemetarmu yang kuperlu nanti. Bukan keakrabanmu yang telah biasa kunikmati. Maka aku menjauh. Menjauhkan pandangan mata yang akan terhijab materi. Menjauhkan pendengaran yang akan terhijab telinga tuli. Menjauhkan mulut yang akan terlena dengan kata suci menjatuhkan. Menjauhkan segala prasangka tak pasti yang sering mengerubuni pikiranku.
Sikap ikhlas dan tawadhu', riyadhah serta 'uzlah menjadi modal utama. Setiap orang punya sudut hati. Setiap orang punya sisi emosi. Tak sengaja aku mengikat namun dengan sengaja aku ingin. Setiap orang punya kebebasan sebelum diikat tali suci 'kekeluargaan'. Bukankan kita tidak harus mematahkan sayap merpati untuk membuatnya tetap berada 'disini' selamanya?
(Al-Ghuroba'/ngahontal.blogspot.com)
