Bismillaah,

Berapa lama Saya dan Anda hidup didunia ini? apa ilmu kita sudah bisa menjangkau pertanyaan "berapa sebenarnya jatah umur yang diberikan-Nya pada kita?"
Saya rasa tak ada ilmu untuk itu; tak ada yang tau berapa jatah umur yang dibagikan untuk setiap hamba. Lalu apa yang Anda lakukan selama hidup didunia? pada siapa, kemana dan pada apa saja waktu yang diberikan kau bagikan? Anda yang tau sendiri jawabannya.


Sering kita mendengar tentang "Sisihkan waktu untuk beribadah sunnah; karena itu lebih baik jika dikerjakan." 
Baca dengan teliti! seolah kita PELIT memberikan waktu pada-Nya, sesampai harus menyisihkan waktu. Bukankah tujuan utama seorang hamba diciptakan adalah untuk beribadah?

wamaa khalaqtu aljinna waal-insa illaa liya'buduuni"
Dan AKU tidak menciptakan Jin dan Manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku"

Duh! Jangankan amalan sunnah, yang wajib saja masih ditunda-tunda. Faghfirlana Ya Rabb~
Bangun tidur, cek sms > buka laptop > update status "hmm, menu sahur hari ini..."
Giliran ibadah kita ria "Aduh habis shalat shubuh tadarusan, hati jadi tenang" Aah! itu status orang kamu jangan ikut campur, katanya. Oke!
Begitu kan? Saya yakin Anda pernah melakukannya, tapi semoga saja tidak.

Sudut pandang mana yang seharusnya kita pakai dalam hal beribadah ini menyisihkan waktu beribadah atau menyisihkan waktu untuk bekerja/beraktivitas.

"Lah bekerja kan kalau niatnya ibadah, mencari nafkah kan tetap dinilai ibadah gemana kamu ini!!"

Memang benar adanya persepsi Anda. Tapi kenyataan dilapangan, kita malah terlihat so' sibuk dengan pekerjaan, so' sibuk dengan dunia; sesampai panggilan-Nya yang 5 kali sehari (minimal) ditunda-tunda. Lancang sekali Anda pada-Nya!!

Ketika bos dikantor memanggil, kita sebegitu takutnya; semua pekerjaan yang sedang dipegang ditinggalkan lalu, 

"Siap bos, ada apakah gerangan"

Ketika DIA memanggil bahkan untuk menggapai kemenangan Hayya 'alal falah, kita sebegitu santainya menunda-nunda, 

"Tanggung sedikit lagi..."

Faghfirlana Ya Rabb~

Tiap hari dengan gampangnya kita berucap do'a iftitah,

Innash shalati wa nusuki wa mahyaaya wa mamati lillaahi Rabbil 'alamin
"Sesungguhnya Shalatku dan Ibadahku dan Hidupku dan Matiku hanya untuk-Mu, Rabb semesta alam.

Begitu gamblang, kau sebut ikrar tersebut 5 kali sehari minimal. Aah! tapi jangankan memaknai setiap kata dalam shalat. Shalatnya pun masih ditunda-tunda. Ya kan?
Kita berikrar, setiap hidupku hanya untuk-Mu, matiku juga untuk-Mu! namun daya apa yang dapat mengubahnya selain dari kekuatan hawa nafsu dan godaan syaitan. Hanya iman dan amal shaleh yang dapat menolong.

Masalah ibadah, diterima tidaknya itu bukan urusan kita yang penting kita menjalaninya tanpa kurang sesuatu apapun. Saya berharap Anda mengerti kenapa Saya menggaris bawahi.

Remaja; Dewasa ini pacaran sudah bukan hal yang tabu. Sesampai orang tua yang murni kasih sayangnya terhijab oleh palsunya kasih sayang seorang pacar. Hei! pacaran itu dosa~


Terangkum dari tweet seorang sahabat disana,

Oh, kenapa saat sang 'kekasih tak halal' marah atau bahkan cuma sekedar cuek atau tidak menghubungi seharian, pusingnya minta ampun? Merasa sudah berbuat salah yang besar sehingga Ia tidak mau menghubungmu lagi.
Oh, kenapa saat berbuat salah kepada orang tua, terutama ibu. Malah orang tua yg membujuk-bujuk meminta maaf, padahal jelas kita yang sudah berbuat salah?

Oh, kenapa saat sang kekasih 'tak halal' membelikan sesuatu; senangnya luar biasa, diposting diberbagai media sosial, seakan seluruh dunia mesti mengetahuinya.
Oh, kenapa kepada orang tua yang telah memberikan SELURUH HIDUPNYA, ucapan terimakasih pun sulit terucap, bahkan ketika ada sesuatu yg belum terpenuhi, dengan lancangnya berkata bahwa orangtuanya itu PELIT?

Oh, kenapa saat sang kekasih 'tak halal' sakit, berbela menjenguk dengan membawakan makanan kesukaannya?
Oh, kenapa saat orangtua sakit, untuk sekedar menanyakan kabarpun lewat telpon tidak pernah?

Oh, kenapa saat sang kekasih 'tak halal' meminta diantar/jemput; selalu siap 24 jam, kemanapun diturutinya?
Oh, kenapa saat ibu meminta diantar ke pasar, bahkan untuk keperluanmu, kau lancang menolak?

Oh, kenapa lebih sering curhat/meminta saran kepada kekasih 'tak halal' dibandingkan kepada orangtua?
Atau kau berpikir kalau orangtua itu 'kolot', yang ketinggalan jaman dan bau tanah?

Oh, kenapa kau lebih menuntut orangtua untuk mengerti perasaanmu, karena pernah melarang sesuatu yg bahkan kau sendiri tahu kebaikannya?
Oh, sepenting itukah kekasih 'tak halal' sehingga menomorsekiankan orang tua?

Oh, mungkin kau sedang lupa kalau 'Birrul walidain' (berbuat baik kepada orangtua) adalah wajib.
Atau kau telah mengubahnya menjadi 'birrul pacaridain?'

Oh, kenapa kau malu meminta maaf kepada orangtua, yang pasti akan memaafkan seberapapun besarnya salahmu?

Faghfirli Rabbi~

(Al-Ghuraba'/ngahontal.blogspot.com)